Emosi-emosi indah perlahan-lahan memenuhi relung jiwa.
Mendesak jeruji penjara jiwa yang tenang.
Mengusik dengan berisik mencoba membunuh ketenangan yang lama telah tercipta.
Semakin lama semakin indah, tetapi entah mengapa hati semakin gundah.
Mungkinkah ini salah?,
Wahai sang Mahapenjaga janganlah kau biarkan penjara jiwa yang tenang ini hancur.
Karena hanya tempat itu yang menjaga jiwa-jiwa insan dari kerapuhan dan kehinaan.
Biarkan raga ini luluh lantak menjaga sebuah izzah dari emosi-emosi indah.
" Wahai jiwa-jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya...!!! "
Ini ekspresi jiwa tanpa ada tekanan dan intervensi.. Tanpa ada hati yang tersakiti dan menyakiti. Semua ini intuisi dan imajinasi anugrah Ilahi..
Minggu, 28 Juni 2009
Sabtu, 27 Juni 2009
Fikir
Fikir ini begitu fakir untuk memikirkan hal2 kecil, hati ini benar2 keras tak ada sedikitpun welas. Fikir ini betulah pelita hati, ketika ibrahim menemukan sang pencipta dengan fikirnya, seketika itu pula terang menenuhi hatiny. Matilah aku dengan fakirnya fikirku, meranalah aku dengan keras tanpa welas hatiku. Fikirku saudara hatiku...
Sabtu, 30 Mei 2009
Aku dan Taubatku
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Tersisa kain putih menyadarkan strata diri yang selama ini lebih tinggi karena kesombongan merajai.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Merasakan fakta penciptaan mencium tanah bukan lagi dambaan, kembali kepada asal adalah keharusan.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Akan tiba kesunyian abadi, tak ada lagi jiwa2 menemani. Hanya sendiri menanggung segala perbuatan di setiap detik kesempatan hidup.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Pertanyaan demi pertanyaan pasti muncul, tetapi belum tentu ada jawaban, yang bruntung siap menjawab, sisanya akan terdiam disertai tangis penyesalan. Dan setiap penyesalan pasti datang penuh keterlambatan.
Haru semakin mebiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Aku dan taubatku...!
Tersisa kain putih menyadarkan strata diri yang selama ini lebih tinggi karena kesombongan merajai.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Merasakan fakta penciptaan mencium tanah bukan lagi dambaan, kembali kepada asal adalah keharusan.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Akan tiba kesunyian abadi, tak ada lagi jiwa2 menemani. Hanya sendiri menanggung segala perbuatan di setiap detik kesempatan hidup.
Haru semakin membiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Pertanyaan demi pertanyaan pasti muncul, tetapi belum tentu ada jawaban, yang bruntung siap menjawab, sisanya akan terdiam disertai tangis penyesalan. Dan setiap penyesalan pasti datang penuh keterlambatan.
Haru semakin mebiru. Isak tangis tiada perlu. Hanya seonggok tubuh terbujur kaku.
Aku dan taubatku...!
Minggu, 24 Mei 2009
Tak Terbiasa dengan Malam
Malam ini tanpa bintang, entah kemana perginya bintang2.
Malam ini terlalu sendu untuk siapa saja yang menikmatinya.
Malam ini nampak kehilangan pesona, hnay warna jelaga yang menghiasinya.
Malam ini tak bernyawa karena tak sedikitpun suara, diri pun terbenam sunyi dibuatnya.
Malam ini menyedihkan bagiku yang telah terlempar dari kenyataan.
Malam ini melukiskan khayalan sejuta kesepian, hanya tatapan hampa menerawang ke pekatnya langt malam.
Malam ini membuatku tak tebiasa dengan malam.
Malam ini terlalu sendu untuk siapa saja yang menikmatinya.
Malam ini nampak kehilangan pesona, hnay warna jelaga yang menghiasinya.
Malam ini tak bernyawa karena tak sedikitpun suara, diri pun terbenam sunyi dibuatnya.
Malam ini menyedihkan bagiku yang telah terlempar dari kenyataan.
Malam ini melukiskan khayalan sejuta kesepian, hanya tatapan hampa menerawang ke pekatnya langt malam.
Malam ini membuatku tak tebiasa dengan malam.
Minggu, 03 Mei 2009
Belasan ke Puluhan...!!!!!!!!!
Belasan tahun khidupnku didunia.
Belasan tahun pula ku mnghirup udara, belasan tahun kumngalami baik suka maupun duka.
Belasan tahun yg lalu aku dlahirkn, dtitipkn kdalam rahim manusia trhbat ddunia mjdkn ku kbanggaan apapun bntuk rupaku.
Belasan tahun yg d awali ktidak tahuan, sampai kini ku mrasa tau sgalany.
Kini puluhan tahun sdah ku hdup ddunia.
Puluhan tahun trasa bgtu cpat dtang, ku mrasa aku bru trlahir tp kini hrus ku sadari ku mndkati akhir.
Puluhan tahun mbuatku nampak smakin renta, uban n kriput blum mnyambangiku, tp kbijaksanaan ttap hrus kumiliki lbih dri belasan tahun.
Puluhan tahun akal, panca indera, alat gerak, dn sluruh dtail ragaku stia menemani, mungkin kini tiba saatku lbih brtrima kasih kpd pmilik raga ini yg trkadang trlupa pdhal dia tak sdikitpun lupa krn Dia MahaTahu sgalany.
Puluhan tahun memaksaku brsahabat dgn mati dn mengenal khidpan stelahny.
Puluhan tahun, mungkinkah branjak mjd ratusan ataupun ribuan...bsar harapku demikian krn belasan tahun sampai puluhan tahun takkn cukup mbawaku kpd kbahagiaan yg abadi dgn ridho ILAHI.
inilah aku dgn kefanaanku yg seakan hbat krn tlah mlalui belasan sampai puluhan tahun padahal sungguh brat untuk mengakui ku takut mnghadapi ini...!
Belasan tahun pula ku mnghirup udara, belasan tahun kumngalami baik suka maupun duka.
Belasan tahun yg lalu aku dlahirkn, dtitipkn kdalam rahim manusia trhbat ddunia mjdkn ku kbanggaan apapun bntuk rupaku.
Belasan tahun yg d awali ktidak tahuan, sampai kini ku mrasa tau sgalany.
Kini puluhan tahun sdah ku hdup ddunia.
Puluhan tahun trasa bgtu cpat dtang, ku mrasa aku bru trlahir tp kini hrus ku sadari ku mndkati akhir.
Puluhan tahun mbuatku nampak smakin renta, uban n kriput blum mnyambangiku, tp kbijaksanaan ttap hrus kumiliki lbih dri belasan tahun.
Puluhan tahun akal, panca indera, alat gerak, dn sluruh dtail ragaku stia menemani, mungkin kini tiba saatku lbih brtrima kasih kpd pmilik raga ini yg trkadang trlupa pdhal dia tak sdikitpun lupa krn Dia MahaTahu sgalany.
Puluhan tahun memaksaku brsahabat dgn mati dn mengenal khidpan stelahny.
Puluhan tahun, mungkinkah branjak mjd ratusan ataupun ribuan...bsar harapku demikian krn belasan tahun sampai puluhan tahun takkn cukup mbawaku kpd kbahagiaan yg abadi dgn ridho ILAHI.
inilah aku dgn kefanaanku yg seakan hbat krn tlah mlalui belasan sampai puluhan tahun padahal sungguh brat untuk mengakui ku takut mnghadapi ini...!
Senin, 20 April 2009
Jamban Breaktrough
Jamban tempat vulgar yang terasingkan dari kehidupan.
Letaknya pasti di sudut bagunan-bangunan manusia dan takkan pernah disejajarkan dengan kamar tidur, ruang makan atau ruang lainnya.
Jamban seakan penuh aib, penuh kehinaan.
Takkan ada satu manusiapun yang membicarakan kejadian-kejadian saat sedang bercengkrama dengan jamban.
Apapun caci-maki yang terlontar, jamban tetap tegar ditempatnya.
Dan tetap setia menampung segala bentuk keburukan manusia.
Jamban seakan menampar hati-hati keras manusia yang tidak menyadari fakta penciptaan dan mengingkari dengan segala pembenarannya.
Jamban tau sgka isi jiwa raga manusia yang seringkali manusia tidak pernah menyadari siapa dirinya.
Letaknya pasti di sudut bagunan-bangunan manusia dan takkan pernah disejajarkan dengan kamar tidur, ruang makan atau ruang lainnya.
Jamban seakan penuh aib, penuh kehinaan.
Takkan ada satu manusiapun yang membicarakan kejadian-kejadian saat sedang bercengkrama dengan jamban.
Apapun caci-maki yang terlontar, jamban tetap tegar ditempatnya.
Dan tetap setia menampung segala bentuk keburukan manusia.
Jamban seakan menampar hati-hati keras manusia yang tidak menyadari fakta penciptaan dan mengingkari dengan segala pembenarannya.
Jamban tau sgka isi jiwa raga manusia yang seringkali manusia tidak pernah menyadari siapa dirinya.
Senin, 06 April 2009
Simfoni Hujan
Titik-titik air Hujan menyentuh bumi dengan suaranya yang khas.
Suara percik air ini menenangkan, menemani mata yang sulit terpejam.
Tak terasa detik demi detik berlalu dengan ku trpaku diam, memanjakan telingaku meresapi alunan nada tetes air langit.
Simfoni alam disusun oleh maestro diatas maestro...takkan mungkin dikalahkan oleh kehinaan,dn ksombongan yg brasal dri kefanaan.
Menilik ke relung hati, adakah sedih terobati?, adakah senang terpenuhi?, adakah kesedihan, dan kesenangan untuk hari esok?
Merenungi diri yang telah jauh berlari tapi hanya ada sesal dijumpai, menampar keras, kerasnya hati yang membuat segalanya semakin tak terpuji.
Hujan mendengar tanpa intervensi. Menasehati tanpa perlu kata. Memanjakan dengan alunan nada.
Simfoni hujan alunan nada2 indah, hadiah alam untuk stiap insan yang percaya akan keajaiban.
Suara percik air ini menenangkan, menemani mata yang sulit terpejam.
Tak terasa detik demi detik berlalu dengan ku trpaku diam, memanjakan telingaku meresapi alunan nada tetes air langit.
Simfoni alam disusun oleh maestro diatas maestro...takkan mungkin dikalahkan oleh kehinaan,dn ksombongan yg brasal dri kefanaan.
Menilik ke relung hati, adakah sedih terobati?, adakah senang terpenuhi?, adakah kesedihan, dan kesenangan untuk hari esok?
Merenungi diri yang telah jauh berlari tapi hanya ada sesal dijumpai, menampar keras, kerasnya hati yang membuat segalanya semakin tak terpuji.
Hujan mendengar tanpa intervensi. Menasehati tanpa perlu kata. Memanjakan dengan alunan nada.
Simfoni hujan alunan nada2 indah, hadiah alam untuk stiap insan yang percaya akan keajaiban.
Langganan:
Postingan (Atom)