Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 16 Oktober 2012

Tolong Aku dan Dia

Tolong selamatkan dia...
Siapapun dirimu, tolong selamatkan...
Kata mereka dia terjatuh kedalam jurang yg dalam dan gelap...
Sebelumnya dia bermain-main di tepiannya...
Sedang asyik bermain lalu dia terpeleset...
Dan kini tak lagi kutemukan dia...
Dia terlalu dalam terjatuh, tanganku tak sampai utk meraihnya naik...
Terdengar hanya rintihan menahan kesakitan...
Bodoh , entah apa yg ada dipikirannya...
Mengapa terlalu mudahny ia terjatuh...
Lambat baru kutahu itu adalah jurang cinta...
Terlalu dalam dan gelap...
Takkan prnah lagi kau temukan chaya jika terjatuh kedalmnya...
Buta ,itu yg kan kau rasa...
Kurasa kini dia sedang brusaha memanjat tebingnya...
Mengerahkan seluruh lelah hatinya...
Perlahan betul2 perlahan...
Mungkin kan menghabiskan banyak waktu...
Aku tak bisa membantunya aku bgtu lemahnya...
Ku berdoa agar waktu bisa memaksanya naik...
Waktu yang kan mempertemukan dia dengan cahaya...
Aku berdoa, hany berdoa dan kadang itu semua hanya dusta...
Dia adalah hati yg hampir mati...
Dia hatiku yang terjerembab jatuh ke jurang cintamu...
Tolong selamatkan dia...
Tolong selamatkan dia...
Kumohon...siapapun dirimu...tolong selamatkan aku...

Jumat, 20 Juli 2012

SEBATANG MENYALA...!

SEBATANG MENYALA…!
sebatang menyala…
sebatang habis…
sebatang menyala lagi…
seakan tiada habis…
seperti sebuah ritual magis…
membawa sosok depresif terbang menjejak tanah…
halusinasi subtitusi kekecewaan hati…
pertentangan hati, satu ingin hidup, satu ingin mati…
satu pertanyaan yg tak pernah terjawab hingga kini…
apakah jiwa ini sakit?...
lagi dan lagi sebatang menyala..
blockade asap psikotik memperindah waham dan halusinasi…
persetan dengan realita…
 kebahagiaan nampak bagai bunga mawar merah nan harum…
Walaupun terkadang kesedihan datang dalam bentuk sosok besar hitam nanmenyeramkan…
Kini episode kebahagian sedang berlangsung, tak perlu takut akan apapun tertawa itu gratis…!!!
Hahaha…hahaha…hahaha…
sebatang menyala lagi…
entah dari mana bisa mendapatkan sebatang yang satu ini…
tetapi kali ini, manusia ber-afek tumpul datang hanya untuk memelas…
akhirnya sebatang menyala, mereka nikmati bersama…
lihatlah, kini dua siluet kehidupan saling berdampingan…
mereka dipersatukan oleh keaadaan dan penantian…
hidup kebebasan…!
Tolong jangan kucilkan kami yang terpasung…

Kamis, 21 Juni 2012

SAAT


SAAT

Saat lelah ini tak kunjung tiba penyelesaiianny...
Saat hati ini terluka begitu dalamny...
Saat kata maaf menjadi murahan dan pasaran...
Saat setiap orang mengatakan tentang bodohmu...
Saat hujan membantu menutupi isak tangismu...
Saat senyuman tidak memaknakan kebahagiaan...
Saat dirimu berpura-pura menginginkan kematian...
Saat ketakutan seolah bermakna keberanian...
Saat pejuang dibaiat menjadi pecundang...
Saat kebenaran diproyeksikan sebagai kebohongan…
Saat kemunafikan menjadi topeng wajahmu…
Saat kau menemukan dirimu terbenam ditumpukkan sampah khidupan…
Saat semua memalingkan muka ketika tanganmu mencoba meraihnya…
Saat dirimu bertumpu pada keempat ekstremitasmu…
Saat tibalah putus asa berlabuh ke tepian hatimu…
Saat tersadar kau telah melalui jalan rusak ini sebelumnya…
Saat tiba-tiba dirimu tersenyum dan menghapus airmata…
Saat bendera putih tak kau biarkan berkibar di cakrawala hatimu…
Saat tersesat dan akhirnya menemukan jalan pulang…
Saat Tuhanmu mengangkat dan menegakkan bahumu…
Saat dirimu terbangun dan lansung berlari…
Saat tulisan ini terlalu panjang untuk dimaknai…




Kamis, 26 April 2012

Permulaan

aku melihat banyak permulaan kehidupan... begitu pula aku banyak melihat akhir kehidupan ketika itu baru permulaan... dan demi ajal yg lama tersurat, sebelum semua bermula.... lalu, dimana permulaanku? akan kemana aku? jika tiba ajal kepadaku, hancurlah aku...!!! terpekur bersama ketakutanku... bringsutku dikolong hitam... bersembunyi, berharap bisa mengelabui ajal... hidupku adalah bagian pragmatis dari konstilasi keduniaan... hedonisme tanpa arti... yang pasti, aku takut mati...

Jumat, 09 Desember 2011

Air Mata dan Hujan

Pertama, ketika air matamu jatuh membasahi bajuku...

aku hanya berfikir untuk menunggu dan membiarkanya mengering...

Akan tetapi, airmata itu berubah menjadi awan yag besar, angin, dan hujan yang menghentikan langkahku...

Ketika hujan tiada berkesudahan, dan aku tak kuasa untuk menghindarinya...

kemanakah aku ahrus pergi?, aku kehilangan arah...

Walaupun terkadang inginku pergi jauh melepas semua...

entah mengapa dirimu selalu ada di fikiranku dan aku selalu kembali...

Aku ingin melindungimu, aku ingin melihatmu bahagia...

Dan ketika hujan kembali datang, aku mulai kehilangan akal sehatku...

“Dan alam pun tahu cara terbaik mengasihaniku”

Jumat, 26 Agustus 2011

Balada Keimanan...!!!


Iman...! hei, iman...! iman...!
Dmanakah kau kini???
Sulit ku mencarimu,
wahai benderang hati...

Iman...! hei, iman...! iman...!
Hanya sebentar kutinggalkan...
Kau malah menjauh...
Kini, kau telah terbiasa kutinggalkan...
Lalu kenapa kau malah pergi ?
Bukaknkah kau telah terbiasa?
Kau menghilang, entah berantah...

Iman...! hei, iman...! iman...!
Kembalilah...kembalilah...
Kembaliah kesetiap langkahku...
Kembalilah kesetiap rukukku...
Kembalilah kesetiap sujudku...

Iman...! hei, iman...! iman...!
Langkahku kini kian tak pasti...
Gelap, semua gelap...
Ku hanya meraba kesana dan kemari...
Kebaikan tak teraba olehku...
Kemaksiatan itulah kebaikan yg terjangkau olehku...

Iman...! hei, iman...! iman...!
Salahku meninggalkanMu...
Salahku mengabaikanMu...
Salahku tak mengenalMu dengan baik...

Iman...! hei, iman...! iman...
Mungkin kau marah padaku...
Mungkin kau muak melihat perangaiku...
Tapi, kumohon...kumohon...padaMU...
Iman, temaniku ketika sampailah waktuku...
Maafkn atas keserakahanku...



Senin, 18 Juli 2011

Kubiarkan

Kubiarkan diriku terbawa oleh dinginnya malam...
Kubiarkan terus dinginnya merasuki tubuhku...
Begitu dalam sampai bisa kurasakan dinginnya mengalir di aliran darahku...
Kubiarkan dingin meyiksaku denga siksaan manis...
Menyiksa tanpa mau tahu siapa yang tersiksa...
Kubiarkan setiap sel dalam tubuhku menjerit...
Menjerit kedinginan, jeritan meminta kehangatan...
Kubiarkan, kuacuhkan, ku tak peduli...
Makian2 pun tertuju padaku, makian dari dalam lubuk hatiku...
Kubiarkan, kuacuhkan, ku tak peduli...
Kubiarkan airmata menitik, keluar dari tempat persembunyiannya selama ini...
Menitik, membasahi, menambah kesempurnaan dinginnya malam...
Kubiarkan karena ku tak sanggup melawan, aku bukanlah kesempurnaan...
Kubiarkan bulan, bintang dan benda2 langit menelanjangiku...
Kuperlihatkan semua kefanaanku...
Kupertontonkan sebuah pertunjukkan bertemakan noda dan dosa...
Kubiarkan diriku tetap terpaku, sampai tibanya lelahku...
Kubiarkan mata ini terpejam, kubiarkan kelam malam memelukku...
melantunkan sebait nyanyian kesyukuran...
“dan alam pun tahu cara terbaik mengasihaniku”